🌚 rmdzn.

Mengenal Masalah Media Sosial dan Sedikit Tentang Dunia Fediverse

Media sosial sungguh sangat keren, tetapi ada masalah di situ, Kawan~

Di saat Wiro Sableng masih hidup, komunikasi antar manusia masih super konvensional. Menggunakan daun lontar yang diterbangkan dengan burung merpati atau diantarkan oleh kurir terpercaya. Mendapatkan berita di zaman itu juga masih sebatas dari mulut ke mulut. Pastinya, semua menggambarkan satu “masalah” yang sama: waktu yang lama, yaah … meskipun “masalah” itu relatif. Kalau saya terbang ke masa itu dan menanyakan “masalah” tersebut kepada bapak/ibu yang tengah ngemil kacang di gubuk, mereka akan menyatakan komunikasi dan pengiriman pesan yang lama bukanlah sebuah masalah, teknologi komunikasi saat itu memang sangat terbatas.

Berbeda dengan era ini, aplikasi perpesanan (messaging) dan media sosial menjadi senjata untuk mengabarkan tentang apapun kepada orang lain dengan sangat cepat. Media sosial (medsos) menjadi andalan banyak orang untuk memperoleh berita tanpa perlu menunggu terbitnya koran cetak setiap pagi. Era media sosial dan kepopulerannya ini ditandai dengan munculnya platform pada satu dasawarsa terakhir seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, Pinterest, dsb.

Masalah media sosial kekinian

Di balik kemewahan dengan segala fitur yang serba gratis itu, media sosial populer memiliki sisi gelap yang membuat penggunanya secara sadar maupun tidak sadar dikelabui, dikekang, dan dilabrak haknya oleh entitas-entitas tertentu. Simak deh bawah ini.

Apa maksudnya? Coba kita membaca tulisan seseorang di Facebook tanpa login terlebih dahulu. Mampukah? Nyamankah? Atau kaget karena tiba-tiba muncul formulir login beserta gambar profil sebuah akun? Oke, mungkin kita dapat menolak login dengan mengklik Lain Kali, tetapi ia akan muncul lagi ketika kita akan melakukan hal yang sama. Selain itu, ada bar login/daftar akun yang juga muncul di bagian bawah.

Kasus “pemaksaan login” seperti itu muncul sejak kehadiran medsos. Sebelum era meledaknya medsos (zaman Friendster tidak dihitung), berbagi informasi dilakukan menggunakan blog. Interaksi dan diskusi terjadi di blog tersebut atau di situs agregasi seperti LintasBerita (lokal) dan Technorati (luar negeri). Orang-orang kekinian lebih suka langsung berbagi tulisan lewat media sosial alih-alih menuliskannya dalam blog untuk kemudian dibagikan lewat tautan.

Ya, konten yang diunggah di media sosial secara teknis adalah milik perusahaan pengembang media sosial. Ia tak akan terbebas dari ancaman penghapusan bahkan pemblokiran. Sebuah konten kontroversial yang dilaporkan oleh massa akan berpotensi besar dihapus, begitu juga konten yang dilaporkan oleh pemerintah sebuah negara.

Ada kutipan yang sangat terkenal, bunyinya, “jika kamu tidak membayar sebuah produk, kamulah produknya.

Kutipan yang hidup sejak tahun 1970-an ini seperti meramalkan dunia media sosial kiwari. Penguasa medsos adalah korporasi–entitas pencari keuntungan. Karena medsos yang mereka buat dapat diakses secara gratis oleh siapapun, untuk mencari keuntungan, mereka menjual data pengguna kepada para pengiklan. Data pengguna yang dimaksud termasuk usia, jenis kelamin, riwayat saat berselancar lewat peramban, dan data serupa lainnya yang secara tak langsung menggambarkan personal pengguna.

Korporasi dengan produknya telah melanggar batas privasi yang dimiliki oleh pengguna.

Apa yang diharapkan pengguna ketika membuka linimasa Facebook atau Twitter? Status yang muncul sesuai kronologi. Siapapun yang baru saja menuliskan sesuatu di sana, seharusnya muncul di linimasa paling atas. No .. no, tak segampang itu, Sergio. Setelah korporasi di balik medsos sukses mengumpulkan data pengguna, mereka mengatur konten apa saja yang harus ditampilkan kepada pengguna berdasarkan data yang mereka kumpulkan. Dalih mereka sih, pengguna adalah konsumen yang wajib dipuaskan dengan konten-konten relevan.

Coba lihat linimasa Facebook kamu, lalu simak iklan fan page yang muncul, pasti sesuai dengan kebiasaan berselancarmu. Facebook akan menjejali pengguna iklan fan page meme jika penggunanya hobi mengakses konten-konten meme di dalam maupun di luar Facebook. Tak hanya itu, iklan-iklan produk yang muncul juga pasti berhubungan dengannya.

Kemudian silakan periksa linimasa Twitter. Pengguna akan disuguhi tulisan seseorang yang selama ini tidak mereka ikuti, karena tulisan itu viral atau disukai oleh akun yang mereka ikuti (following). Di samping itu, mereka memang membuat opsi untuk melihat twit sesuai kronologi melalui tombol See latest Tweets instead, tetapi mereka seringkali mematikan opsi itu tanpa sepengetahuan pengguna sehingga twit yang akan muncul di linimasa adalah twit-twit populer terlebih dahulu–seperti biasanya.

Twit akun Admin Usam Twit yang muncul di linimasa saya. FYI, saya tak pernah mengikuti @AdminUsam

Medsos dimiliki oleh entitas tunggal. Apa artinya? Jika entitas (baca: korporasi) itu kolaps dan kalau tidak ada entitas lain yang mengakuisisinya, secara otomatis medsos yang disediakan ikut mati. Banyak kok contoh medsos yang kolaps, di antaranya Yahoo! Koprol, Path, dan Friendster.

Solusi

Komunitas yang selama ini peduli dengan negatifnya ekosistem medsos telah cukup lama menerapkan protokol terbuka agar pengguna satu medsos dengan medsos lain dapat saling berkomunikasi.

Maaf, kalau sebutan “protokol” terlalu teknis bin jelimet. Anggap saja “protokol” itu “bahasa”. Apakah pengguna Twitter dapat langsung mengobrol dengan pengguna Facebook, tanpa harus mendaftarkan diri dulu di medsos yang disebut terakhir? Tidak bisa, karena selama ini keduanya berbicara dengan “bahasa” yang berbeda. Naah … “protokol terbuka” yang dimaksud di atas mengizinkan sebuah proyek medsos untuk berbicara dengan “bahasa” yang sama meskipun tampilan dan bentuk medsosnya berbeda.

Implementasi “protokol terbuka” mengizinkan medsos mengudara tanpa tergantung pada satu server terpusat. Seperti yang saya bilang tadi, kelemahan dari medsos populer adalah hidup tersentralisasi. Yang berarti, mereka dimiliki oleh satu entitas. Tulisan galau, tulisan motivasi, gambar-gambar lucuk, yang kita unggah di sana dikelola oleh satu dan hanya satu entitas. Dengan “protokol terbuka”, medsos-medsos dapat dikelola di server yang terdesentralisasi dan terdistribusi (terfederasi) oleh banyak entitas.

Lihat ilustrasi di bawah ini. Ini adalah ilustrasi dari teori seorang engineer kelahiran Polandia-Amerika, Paul Baran:

Tiga jaringan; tersentralisasi, terdesentralisasi, dan terdistribusi

Konsep sentralisasi terlihat pada gambar (a) sedangkan konsep desentralisasi dan distribusi tergambarkan pada poin (b) dan (c). Titik-titik di situ menggambarkan server berisi medsos dan garis menggambarkan jaringan atau koneksi. Untuk selanjutnya saya akan menyebut poin (b) dan (c) sebagai federasi.

Sentralisasi adalah bagaimana Facebook, Twitter, Instagram, dll bekerja. Kalau federasi? Federasi adalah bagaimana surel (email) bekerja. Pengguna GMail dapat mengirim pesan kepada pengguna Outlook. Keduanya juga sama-sama dapat mengirim pesan kepada Protonmail, Tutanota, Yahoo Mail, FastMail, dan StartMail, begitu juga sebaliknya. Surel merupakan salah satu contoh penerapan “protokol terbuka” yang telah kita nikmati hingga kini.

Protokol terbuka untuk medsos itu ada banyak. Meskipun banyak, dasarnya sama sehingga mereka tetap bisa berkomunikasi satu sama lain.

Khusus untuk medsos, dunia federasinya punya sebutan sendiri, yakni federation (protokol Diaspora dan OStatus) dan fediverse [gabungan dari kata federation dan universe (protokol OStatus dan ActivityPub)]–walaupun untuk saat ini dunia federasi medsos didominasi oleh fediverse. Tunggu dulu, kita tidak akan menuju penjelasan detail mengenai hal itu.

Keuntungan medsos terfederasi

Kekurangan medsos terfederasi

Macam-macam medsos terfederasi

Sebetulnya terdapat laman khusus yang memamerkan medsos apa saja yang ada di dunia fediverse. Bisa dong kamu cek di https://fediverse.party.

1. Mirip Twitter

* Mastodon

Akun Mastodon Halaman profil Mastodon

Mastodon menjadi medsos di fediverse yang paling populer.

Server terpopuler: mastodon.social.

Akun GNU Social Halaman profil GNU Social

Akun Pleroma Halam profil di Pleroma

Server terpopuler: pleroma.site.

Akun MissKey Halaman profil di MissKey

MissKey lebih terkenal di Jepang. Ia berbentuk microblogging dan memiliki tampilan yang mudah dikustomisasi seperti Friendster.

2. Mirip Facebook

Akun Diaspora Halaman profil di Diaspora

Server terpopuler: joindiaspora.com.

Akun Hubzilla Halaman profil di Hubzilla

Akun Friendica Halaman profil di Friendica

3. Mirip Instagram

Akun Pixelfed Halaman profil di Pixelfed

Server terpopuler: pixelfed.social.

4. Mirip YouTube

Akun Peertube Halaman profil di Peertube

5. Unik

Akun Socialhome Halaman profil di Socialhome

6. Mirip Reddit

Akun saya di Fediverse

Saya membuat beberapa akun medsos di fediverse. Sila sampaikan hai ke @ramdziana@mastodon.sacial (Mastodon), @rmdzn.libranet.de (Friendica), ramdziana@joindiaspora.com (Diaspora), atau @ana@pleroma.site (Pleroma). Akun Pleroma adalah akun yang kini sedang aktif saya pegang.

#Medsos