🌚 rmdzn.

Menerima

Hampir satu tahun ini orang-orang dikemplang habis-habisan untuk bersikap menerima. Dari hal-hal ringan seputar keinginan tersier sampai kebutuhan pokok. Soal ruh maupun materi.

Menerima kebiasaan tak menyenangkan dan menerima keadaan yang tak menyenangkan pula.

Satu yang pasti. Saya mulai menerima budaya pekewuh (tidak enakan)–satu sikap menyebalkan yang mudah ditemukan di lingkungan sampai radius ratusan kilometer dari tempat saya duduk sekarang.

Seperti ini.

Saya percaya dengan keefektifan masker (di samping cuci tangan dan jaga jarak) sehingga sebisa mungkin pakai masker saat keluar rumah, meskipun hanya di teras.

Terlihat paranoid, tapi saya lebih memilih sikap tersebut ketimbang saya mengatakan, “maaf, saya ke belakang dahulu untuk mengambil masker” atau tanpa berucap langsung lari saat orang mendekati saya sambil bermuka telanjang. Entah ketika saya cuma menengok jalanan depan atau saat menata botol minuman di lemari pendingin sebagai barang dagangan.

Di sisi lain. Pekewuh menjebak saya dalam kenyamanan dan keamanan semu. Saya ternyata pekewuh untuk tidak ikut bergabung acara rapat atau jengukan bayi tanpa perlu membuka masker untuk menyantap suguhan dari tuan rumah. Untungnya tidak selalu begini, beberapa satu dua kali saya tetap mempertahankan masker di muka. Tapi, yaa, dalam banyak kasus, saya lebih baik tidak ikut sekalian daripada rasa pekewuh yang meluber sampai kemana-mana.

Menerima itu sulit.

Mulai detik ini, saya perlu bersiap menyaksikan kehendak dari banyak orang untuk membuka kegiatan Ramadan di masjid kala pandemi. Tahun lalu beberapa orang melakukannya meski keadaan sebenarnya belum baik-baik saja, dan sepertinya besok akan terulang lagi.

Banyak orang yang masih menolak bahwa situasi belum senormal dua tahun lalu.

Di dalam kotak draf blog, saya juga sebenarnya masih menyimpan tulisan yang awalnya saya maksudkan terbit bulan Ramadan. Draf tersebut belum rampung, bahkan masih paragraf pembuka. Tentu, sampai kini atau besok saya belum (bahkan tidak) berniat menyelesaikannya. Aah … saya memang perlu menerimanya agar segera beranjak ke ide lain.

Lagi-lagi, menerima itu memang sulit.

Pemegang kebijakan informasi dan komunikasi di negeri ini membuktikan hal serupa. Baru-baru ini mereka meminta Clubhouse, aplikasi iOS terbaru, yang sedang moncer untuk mendaftarkan dirinya di Indonesia ke dalam daftar Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE).

Internet itu luas. Ia menerabas batas negara. Tetapi para tetua di atas sana tidak mampu menerima itu. Internet harus terbatas. Terdaftar. Dan teratur.

Dalam konteks infrastruktur, jelas, internet harus terdaftar dan teratur. Namun dari segi apa yang ada di dalam sana, internet bersifat independen–tanpa batas, tanpa aturan. Sehingga untuk mempertahankan sifat bebasnya sekaligus menolak hal-hal buruk darinya, hadirlah konsep “daftar hitam”. Semua legal, kecuali yang tidak. Semua aman, kecuali yang membahayakan. Bukan sebaliknya: semua membahayakan, kecuali yang tidak–seperti tetangga daratan.

Sayangnya negeri ini tidak begitu.

Sayangnya.

Menerima memang sulit.

Soal blog ini, beruntung, saya mau tak mau menerima bahwa pencarian ide kadang kala mentok. Bahkan, untuk melakukan hal-hal lain dan menuliskan tentangnya pun tak mampu. Benar-benar, mentok … tok .. tok .. tok.

Karenanya, bisa-bisanya topik ini terlintas di kepala dan tertulis lalu terbit beberapa jam kemudian.

Aah, menerima itu tidak mudah.

Umpama kuadratriliun lalu iblis menerima bahwa manusia bernama Adam lebih tinggi darinya dan mau sujud sebagai tanda penghormatan, dia tidak perlu mondar-mandir dari langit ke bumi lalu sibuk dituding sebagai biang kerok celanya perilaku keturunan Adam.

Jika pada waktu yang tak lama darinya, Adam dan Hawa juga menerima bahwa larangan adalah larangan. Mereka tak perlu repot-repot mencopot Khuldi atau buah pengetahuan dari ranting lalu menyantapnya. Mereka cukup duduk anteng, mendengar iblis sambil lalu, dan tetap bertahan dengan aliran susu, madu, dan anggur di kiri kanan yang siap diserok dengan gelas martini, snifter, sampai beer stein.

Dan kita tak perlu ada.

Kita tak perlu terberi lalu menerima.

[Foto oleh Kim Stiver dari Pexels]

#Cuap