🌚 rmdzn.

Basa-basi

Kapan terakhir kali kamu melihat keponakan atau sepupumu yang ternyata sudah besar setinggi egrang?

Lebaran ini?

Pikiran terbatin atau yang dikeluarkan tiba-tiba pasti seragam. “Wow, kamu sudah besar, ya? Dulu masih segini.” Dengan kode tangan laksana ingin menepuk tanah atau mata menyipit dengan jari telunjuk hampir menempel jempol dan tiga jari lain mengangkat ke atas di depan muka.

Bagi keponakan atau sepupu, pertanyaan itu mungkin setingkat menyebalkan dengan lontaran “kapan nikah?” dan “kapan punya momongan?” yang juga kerap kamu dengar. Membuktikan bahwa setiap generasi akan sama-sama mendapatkan pertanyaan menyebalkan. Sekarang atau nanti.

Kita mungkin sebal dengan pertanyaan basa-basi, tapi semakin usia bertambah, semakin besar pula potensi pertanyaan sama yang kita lontarkan kepada orang lain. Dan kita berubah menjadi penanya menyebalkan. Harvey Dent bilang, you either die a hero, or live long enough to see yourself become the villain.

Sebetulnya, tertanya dan penanya berada di dimensi berbeda. Tubuh dan pikiran tertanya berada di dalam kolam Koi, sedangkan tubuh dan pikiran penanya berada di kolam ikan Mas. Selama tidak ada lubang atau sodetan untuk menjembatani kedua ikan saling menyeberang, masing-masing ikan akan disibukkan dengan hidupnya sendiri. Wawasannya sendiri.

Ikan Mas tak tahu apa yang dikerjakan para Koi di seberang. Makan apa? Apakah filter air bekerja dengan baik sehingga ikan tak menyedot polutan dan sekitarnya tetap jernih? Apakah telur ikan di sana terawat dengan baik dan sehat? Apakah … apakah … apakah?

Yaaaa … tidak tahu.

Bayangkan. Ikan Mas sedang gabut lalu mencari perhatian dengan meriakkan air, memonyongkan bibirnya ke permukaan dan mengarahkannya ke kolam Koi sambil berteriak, “woe, lu lu siapa yang belum kawin?!” atau “woe, Jon, lu kenapa belum kawin?!” tanpa aba-aba.

Ikan Mas tak bermaksud menyinggung Koi. Sekadar mengisi waktu luang saja dan membuka obrolan. Meskipun ada dua respon yang dapat ditangkap dari ikan Mas jika Koi tak merespon dengan sumringah: berhenti dan mengerti atau mengulang pertanyaan terus-terusan.

Maklumi saja sang penanya. Mereka tak tahu posisi tertanya. Begitu juga sebaliknya. Kabarnya. Suasana hatinya, perasaannya. Apa yang baru saja dialami. Kehidupannya. Semua adalah asumsi. Kosong.

Kedua pihak tidak akan pernah nyambung. Seperti sedang berbicara dengan ruang hampa dan mengharap jawaban dari sana. Karena itu, agar lebih mudah, jawab saja sang penanya dengan jawaban sekenanya, biasa, normal, tak bertendensi untuk menggertak dan memusuhi.

Bukan berarti kamu harus menampik rasa emosi yang keluar tiba-tiba saat pertanyaan muncul. Saya paham, kok, begitu banyak ikan Mas yang sangat menyebalkan, yang ingin kamu masukkan ke keranjang dan terbangkan ke sisi gelap bulan.

Suatu hari, seorang perempuan bersuami menyenggol lengan temannya, “kapan kamu nyusul? Keburu tua.” Ibu perempuan yang berdiri di sebelahnya tak ingin ketinggalan, “Iya, kasihan ibumu itu sudah mau gendong cucu.”

Menyakitkan?

Bisa jadi.

Sakit karena kata semirip kepedasan karena makan cabai. Meski ada skala Scoville, toleransi setiap manusia terhadap rasa pedas berbeda-beda. Begitu pun juga dengan kata. Satu orang dapat menerima dengan santai sebuah pertanyaan, sedangkan orang lain tidak. Ia akan menyimpan rasa tidak nyaman dan menyulapnya menjadi rasa marah.

Itu pun dilihat dari seberapa banyak pertanyaan disampaikan. Sekali dua kali masih oke lah, tapi kalau berulang kali, dan hanya pertanyaan itu yang selalu disampaikan setiap kali bertemu, itu namanya ngajak gelut.

Namun kembali ke semula. Pikiran kita dan pikiran mereka berada di dimensi berbeda. Tidak akan pernah ada jembatan antar dimensi jika pertanyaan sekadar berbentuk basa-basi. Sederhananya, tanggapi saja sewajarnya lalu beranjak. Jika sedang merasa tidak nyaman, dan ingin menghindar, lakukan saja.

Rasakan saja emosi yang sedang terpendam. Valid, kok. Tapi jangan selalu memvalidasi tindakan hasil respon emosi. Marah? Valid. Lalu merespon dengan colotan? Yaa, belum tentu valid. Marah? Valid. Lalu merespon dengan pukulan? Jelas, tak valid.

Lihat kondisi.

Saya jadi ingat, tulisan ini awalnya ingin melihat titik kiranya seorang anak dianggap sudah “besar” (baca: remaja). Adik sepupu saya, terakhir kali saya lihat bertahun-tahun lalu, setinggi tiga kali penggaris 60cm. Dari foto yang dikirim bapaknya tahun ini, dia sudah hampir … ah sudah lah. Kapan-kapan lagi.

Ternyata, di mana-mana pertanyaan seputaran “kapan nikah?” dan “kapan punya anak?” berikut respon yang disuarakan selalu mendistraksi, ya? Asem.

[Gambar oleh suju-foto dari Pixabay]

#Cuap