🌚 rmdzn.

Merawat Luka Batin

Apa kabar kamu yang hampir gembira? Apa kabar kamu yang lagi sedih? Bahkan sedang merasa nge-drop, mungkin?

Dari sekian buku yang dipajang di dalam rak sebuah toko, yang baru selesai saya beli dan baca ini mungkin menggambarkanmu: Merawat Luka Batin. Buku berkover kuning dengan karakter putih berambut seuprit yang ditulis oleh satu-satunya dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ (spesialis kedokteran jiwa dan psikiater).

Kerutinan dr. Jiemi yang membagikan ilmu-ilmu seputar kesehatan jiwa di Twitter membuat saya memutuskan untuk memasukkan buku ini ke dalam daftar bacaan. Dan, taraa, di sinilah saya, disambut pengantar menyenangkan dari penulis, terutama saat dia menjelaskan kisah-kisah orang yang ada di dalam buku hanyalah rekaan. Bukan kisah pasien asli. Di tengah banyaknya selebtwit bergelar dokter yang menceritakan kisah pasien ditambah penghakiman ini itu, pengakuan dr. Jiemi menjadi hal yang sangat patut dihormati.

Sampul buku "Merawat Luka Batin"

Depresi emang fenomena yang kompleks, tidak boleh disederhanakan hanya dengan "mengalami pengalaman buruk", kata penulis. Penjelasan umum yang bikin manggut-manggut sejak beberapa halaman awal buku dibuka.

Dalam satu bagian bab, banyak sekali bahasan. Karena fokus buku ini adalah depresi, dalam satu bab tidak hanya berisi definisi depresi saja, tapi juga bagaimana mengungkapkan emosi dengan sehat yang secara langsung tidak langsung dapat mengatasi depresi.

Penulis menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang enak. Seperti saat dia menguraikan "stres". Zaman dulu, stres dapat tercipta ketika kita sedang ingin berburu hewan untuk dimakan, tetapi di tengah perjalanan justru bertemu kawanan serigala kelaparan. Tubuh kita merasakan reflek: berkeringat, jantung berdegup kencang, nafas ngos-ngosan, perut tegang. Kemudian, memutuskan untuk melawan atau berlari. Zaman sekarang, ia tercipta ketika menghadapi tenggat waktu pekerjaan yang mepet dan konsumen yang menyebalkan. Jadi, zaman kapanpun, stres itu wajar, tapi tidak saat terjadi berkepanjangan.

Selain menerangkan, baik tentang realistis yang berbeda dari sinis, monkey mind, filter mental, dan ruminasi, penulis benar-benar merangkul pembaca melalui buku ini. "Tidak ada satu perasaan yang 'benar' untuk dirasakan. Semua perasaan boleh dirasakan, dan semua perasaan itu valid." (hal. 91).

Merawat Luka Batin mengajarkan banyak hal. Tidak selalu teori, tetapi juga praktis. Ia menyajikan tabel-tabel untuk diisi pembaca. Untuk menilai apakah kamu perlu lebih lanjut memeriksakan diri ke psikolog/psikater atau tidak, bukan untuk mendiagnosis diri sendiri lho, yaa. Secara garis besar, sisi praktis ini sebagai cara untuk merawat luka batin. Tabel-tabel unik ini tidak hanya muncul satu dua kali saja, tetapi banyak dan beragam, penulis seperti terus mengajak pembacanya, "latihan, yuk! Apakah kamu baik-baik saja atau tidak."

Merawat Luka Batin tidak hanya ditujukan untuk pembaca yang ingin lebih mengerti tentang "depresi", baik dari sudut pandang ingin tahu atau sebagai pasien depresi, tapi juga untuk orang yang sedang memiliki teman atau keluarga yang depresi. Ia mengajarkan kita cara bersikap, mengerti, dan berkomunikasi dengan mereka. Membantu pasien depresi agar membaik dan sembuh.

Secara umum, topik dan konten yang disampaikan dalam Merawat Luka Batin sangat menarik dan penting. Tapi, ketiadaan poin-poin berupa angka atau huruf pada daftar membuat isi buku terkesan berantakan. Salah satu contoh, pada topik "7 hal yang bisa kita ubah", tujuh poin yang dimaksud tidak dilabeli dengan angka satu sampai tujuh. Pun, bahasan itu jadi tidak terlihat di daftar isi. Jadi yaa, gitu deh.


Judul: Merawat Luka Batin

Penulis: dr Jiemi Ardian, Sp.KJ

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: xiii+312 halaman

Tahun Terbit: 2022

#Buku