🌚 rmdzn.

Perjuangan Laut, Hilang dan Menangnya

"Ada rekomendasi buku gak?", tanya saya beberapa bulan yang lalu.

"Ada, Laut Bercerita!"

Judul Laut Bercerita memang sudah saya kantongi sebagai buku yang ingin saya baca, tetapi atas rekomendasi dirinya, ia naik menjadi prioritas tertinggi. Diambil dari tumpukan paling atas, bahkan di atas debu-debu yang mengitari. Cuss!

Laut Bercerita mengambil kisah berdasarkan masa asli (based of true event). Menjelang hingga setelah rezim Soeharto lengser. Dilihat dari sinopsis pada sampul belakang buku, terdapat dua tahun yang disebutkan: 1998 dan 2000. Perwakilan tahun yang cukup menggambarkan emosi yang disampaikan dalam buku, tapi tidak menggambarkan sepenuhnya cerita yang penuh liku.

Dua sudut pandang yang dapat diambil di sini. Kekalahan dan kemenangan itu sendiri. Dalam teori kemanusiaan dan moralitas, kita harus mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Apa yang dilakukan Laut dan teman-temannya membuktikan hal itu. Begitu juga tokoh-tokoh nyata, mahasiswa, penyair, dan lainnya yang meninggal dan hilang karena total mengkritik rezim zalim yang berkuasa.

"Laut Bercerita"

Laut? Iya. Pemilihan judul dari seorang Leila S. Chudori yang menarik sangat. "Laut Bercerita" dapat berarti: laut yang bercerita. Sebuah personifikasi. Laut yang diam-diam menceritakan nasib pemuda-pemudi yang berakhir di dalam sana. Juga secara harfiah: Laut yang bercerita. Seseorang bernama Laut mengisahkan apa saja tentang petualangan hidupnya.

Cerita dibagi dalam dua bab. Dua sudut pandang: Biru Laut dan Asmara Jati. Kakak beradik yang secara langsung tidak langsung saling mempengaruhi hidup. Bab Biru Laut menjadi yang terpanjang. Misi hidup yang penuh prinsip yang kokoh, keriwehan, serta ketegangan. Saya menyukai pembawaan bab Biru Laut. Ia dibagi dalam judul-judul dan mereka berselang-seling, antara petualangan Biru dkk dan akibat dari petualangan tersebut. Antara tahun sebelum 1998 dan tepat pada tahun 1998.

Saya dapat ikut merasakan rasa suka, gembira, bahagia, berlanjut tegang dengan tetap penuh harapan. Kesan yang begitu seru saat membaca perkenalan tokoh-tokoh – teman-teman seaktivis Laut, dalam Winatra maupun Wirasena – hingga perkenalan cara komunikasi yang mereka lakukan: penuh diskusi panas hingga ramah tamah yang hangat.

Lalu, perasaan itu digeblak terbalik oleh kenyataan lain. Kisah yang kasar, menyebalkan, penuh amarah, kesakitan, hingga pengkhianatan yang menjijikkan. Saat membaca bagian ini, saya juga ikutan muak. Kalau pun boleh dibilang lebai, lelah mental. Harapan tinggi yang disampaikan pada subbab sebelumnya runtuh. Pembaca "dipaksa" untuk tahu bahwa harapan hidup yang disampaikan memang tidak akan terwujud. Justru itu, mengetahui nasib buruk yang akan terjadi pada orang lain – meskipun hanya dalam sebuah cerita – adalah hal menyakitkan.

Laut Bercerita merupakan novel yang mungkin bikin bingung bagi sebagian orang yang tidak menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibunya. Beberapa obrolan dan komentar yang disampaikan dalam bahasa tersebut sama sekali tidak diberi arti dalam Bahasa Indonesia (entah dalam tanda kurung atau catatan kaki). Jadi, yaa, perlu menebak sendiri arti dari perkataan yang dimaksud. Tapi, untungnya celotehan berbahasa Jawa tidak begitu banyak

"Senenge pancen ditandangi dhewe," kata Mas Yunus sambil menunjuk bagaimana Kinan mengukur kertas kosong agar penggandaan tidak miring dan tertutup rapi. (hal. 18)

Bukan cerita sekadarnya. Ia juga memperkenalkan gerakan perjuangan yang pernah tumbuh di negara lain. Sebuah seruan a luta continua, perjuangan gerakan FRELIMO (rente de Libertação de Moçambique) saat Perang Kemerdekaan Mozambik. Seruan yang diciptakan presiden pertama FRELIMO, Dr. Eduardo Chivambo Mondlane, tersebut menjadi slogan saat melawan rezim kolonial Portugis. Seruan yang tetap dilanjutkan oleh penerus setelah sang presiden dibunuh.

Tidak menyangka, bukan?

Saat sesi baca bareng bersama kawan-kawan, dengan nada gurauan saya ditanyai, "sudah nangis-nangis belum?" Pertanyaan meme ala Laut Bercerita yang … aslinya mah bukan meme. Efek irisan-bawang itu keluar menjadi-jadi pada bab kedua – cerita dalam sudut pandang Asmara Jati. Kehilangan yang begitu sangat, orang tua yang terus saja denial (menolak) bahwa anaknya sudah meninggal, serta Mara yang merasa tidak diakui perasaannya bahwa ia juga merasa pilu dan terluka.

Sial. Cerita itu masih membekas saat saya menulis ini.

Laut Bercerita menjadi novel lokal yang tidak mungkin saya lupakan dan jelas saya rekomendasikan kepada orang-orang. Genre dan gaya bercerita di sana pun membuat saya ingin kembali membaca karya Leila S. Chudori lainnya.

Laut Bercerita? Gass, recommended!


Judul: Laut Bercerita

Penulis: Leila S. Chudori

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tebal: x+379 halaman

Tahun terbit: 2017

#Buku