Hidup Jo ... Kopi!
Dahulu dalam banyak kasus, saya sering kesulitan menentukan kesukaan atau hobi. Padahal ia seharusnya tak perlu menjadi beban, mengalir saja seperti hidup yang sedang dilakoni.
Pada masanya memilih: bermain gim atau membaca buku, membaca buku atau membaca majalah atau koran, badminton atau berlari (fun run), berlari atau bersepeda, bersepeda atau berjalan kaki, lalu teh atau kopi?
Mengherankan, ya? Begitulah saya. Salah satu dari milyaran manusia yang pernah bimbang untuk urusan sederhana, termasuk yang saya sebut terakhir.
Teh atau kopi?
Berdasarkan sekian "percobaan", ternyata saya lebih cocok dengan kopi. Baik sebagai rekreasi mau pun doping. Oke, bukan doping dalam konteks yang harus saya konsumsi setiap saat setiap hari agar pekerjaan kelar, melainkan dipakai dalam situasi kondisi tertentu ketika saya butuh pikiran atau tenaga yang lebih oke.
Saya pekerja lapangan, yang dalam sehari dapat berjalan 3.000 sampai 5.000 langkah lebih. Pernah suatu kali dengan isengnya menyeduh lalu meminumnya. Secangkir kecil 4 gram kopi Kapal Api. Tanpa gula.
Coba tebak. Badan saya yang menyerap kafein1 80-100 mg itu lebih tangguh ketika berjalan. Rasa letih yang sempat muncul, terasa berkurang. Berbanding terbalik dengan teh, meskipun mengandung kafein dengan jumlah yang tidak beda jauh dengan kopi, konsentrasi kafein pada setiap sajian justru lebih pekat pada kopi.
Hidup jo ... kopi!
Sebenarnya sejak lama saya cenderung penikmat kopi--kopi saset yang penuh gula itu. Coffeemix, Goodday, Torabika Cappucino, ABC Kopi Susu, dan apalah-apalah.
Lalu, saya memperbarui diri dengan kopi tubruk. Kopi hitam bubuk yang disajikan dengan cara sederhana. Tuang bubuk ke gelas, kemudian masukkan air panas/mendidih, dan sruput! Ada kopi Kapal Api biasa atau varian kopi Lampung, Kopi Gadjah, Top Coffee (varian biasa maupun Toraja), dan Kopi Excelso.
Hingga suatu hari saya membeli ...
Mari kita sambut, Moka pot!
Instagram memang racun. Dalam konteks ini, positif, ia menyajikan konten penggunaan alat moka pot untuk menyeduh kopi ala espresso.
Moka pot adalah tungku kecil yang terdiri dari tiga bagian. Bawah, wadah air. Tengah, tempat kopi bubuk. Atas, ember tempat seduhan kopi dengan kremanya muncul. Jadi, ia menyeduh kopi dengan cara menekan bubuk kopi dengan uap airβtidak lama, sekitar dua sampai tiga menit saja. Beda dari kopi tubruk, seduhan dengan moka pot terasa lebih kuat cita rasa dan aromanya.
Saya membeli dari lokapasar TygoLife dengan ukuran 3 cup. "Cup" dalam ukuran Moka pot merujuk pada "shot espresso". Satu cup berisi sekitar 60 ml. Versi 3 cup (~180 ml) ini cocok untuk porsi sendiri atau dibagi dua orang dengan cangkir yang lebih kecil. Yuhuuu.

Idealnya penggunaan moka pot disandingkan dengan kopi yang digerus sendiri dari bean, dengan berat dan ukuran gerusan yang dapat disesuaikan selera. Namun, saya pakai untuk kopi bubuk biasa lebih dahulu. Sampai tulisan ini dibuat, saya sudah coba menggunakan kopi:
Gadjah Dengan syarat, air yang dipakai untuk menyeduh adalah air bersuhu ruangan. Jika saya memaksa menyeduhnya dengan air bersuhu >50Β°, kopi yang keluar ke ember seduhan tidak stabil atau muncrat-muncrat.
TOP Coffee Kopi Instan Murni Saya membeli pak 158 g. Sejauh ini berhasil, saya baru mencoba menyeduh dengan air awal bersuhu ruangan.
Kapal Api Kopi Lampung Kopi ini gagal saya seduh menggunakan moka pot, baik saat menggunakan air bersuhu ruangan mau pun air hangat.
Excelso Robusta Gold Goooold!! Kopi bubuk terfavorit yang saya seduh menggunakan moka pot. Ia dapat mulai diseduh dengan air bersuhu ruangan mau pun bersuhu hangat.
Sebagai catatan, kopi-kopi di atas memiliki tekstur halus. Karena itu moka pot akan cenderung menghasilkan seduhan atau ekstraksi kopi yang pahit. Berbeda jika kita menggerus kopi dari bean, yang dapat kita atur antara kombinasi tingkat gerusannya dan banyaknya air, sehingga menciptakan rasa yang tidak hanya pahit, tapi juga asam atau ragam rasa lain.
Saya termasuk beruntung. Sekali menggunakan moka pot langsung berhasil (menggunakan Kopi Excelso).
Apa selanjutnya?
Moka pot adalah produk terbaik yang saya beli dalam beberapa tahun terakhir, sehingga, tentu saja, untuk memenuhi hasrat perkopian dan waras di tengah negara nggragas, saya akan lebih bereksperimen dengan ala kedai kopi rumahan: membeli bean kopi dan menggerusnya secara manual.
-
https://galamedia.pikiran-rakyat.com/ragam/pr-359422538/5-kopi-sachet-dengan-kafein-tinggi-yang-jadi-favorit-warga-indonesia?page=all, diakses 18 Mei 2026, 22:10 WIB ↩︎