Rekap Bacaan 2025

Tahun ini bukanlah tahun menyenangkan. Bencana ekologis di mana-mana. Pemerintah yang tak becus mengatasi masalah apa pun. Aparat membunuh. Kritikan sipil yang dibalas penjara. Jujur saja, karenanya, sulit untuk merayakan apa saja.

Di sisi lain, demi kewarasan dan kesehatan pikiran, jiwa ini harus tetap memberontak. Dengan sekecil-kecilnya perlawanan: membaca. Selayaknya hobi pada umumnya, ia bukanlah kegiatan heroik. Namun dengan situasi kondisi seperti sekarang; penyitaan buku, pembubaran diskusi buku, pembodohan masyarakat, dsb, membaca menjadi kegiatan yang super penting.

kumpulan buku yang saya baca tahun 2025

Jadi, melalui blog ini, saya mengajakmu untuk lebih sering membaca. Mulai saja membaca apa pun hari ini. Salah satu buku yang saya baca tahun 2025 mungkin dapat menjadi referensimu.

  1. The Dragon Republic (Republik Naga) oleh R.F. Kuang. Melanjutkan bacaan buku serial karya R.F. Kuang dan ini adalah buku kedua. Bukan novel favorit tapi kalau saya ditanya tentang kisah yang sulit ditebak dan menyebalkan, saya akan merekomendasikan serial The Poppy War ini.

  2. Menjerat Gusdur oleh Virdika Rizky Utama. Salah satu buku sejarah yang mengulas jatuhnya Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur). Darinya saya dapat menilai, pejabat brengsek yang berulah pada zaman Gusdur masih berulah pada era presiden saat ini.

  3. Kenakalan Rambat oleh Agus Mulyadi. Buku elektronik pertama yang saya baca tahun ini. Tulisan menyenangkan agak saru dari Gusmul atau Agus Magelangan. Ia dapat membantumu dari kesuntukan.

  4. Murambi, Buku Tentang Tulang Belulang oleh Boubacar Boris Diop. Novel yang mengambil latar belakang genosida di Rwanda tahun 1994. Seingat saya, ia menjadi novel pertama dari penulis Afrika yang saya baca.

  5. Dari Penjara ke Penjara oleh Tan Malaka. Memoar Bapak Republik yang cukup bikin pusing kepala. Bagi yang tidak terbiasa dengan tulisan Tan Malaka, ia tidak mudah dipahami. Karenanya, saya tidak minat membaca Madilog (untuk saat ini). Satu-satunya buku Tan Malaka yang bakal saya baca berikutnya adalah Aksi Massa.

  6. The Burning God (Sang Dewi Api) oleh R.F. Kuang. Judul terakhir dari seri The Poppy War. Kamprey memang Rebecca Kuang, mampu menulis novel segar, dengan tokoh-tokoh menyebalkan dan lakon yang tidak layak difavoritkan.

  7. Parade Hantu Siang Bolong oleh Titah AW. Kumpulan reportase Titah AW saat di VICE Indonesia. Laporan berita tentang hal-hal mistis yang disampaikan secara ciamik. Narasinya enak dibaca. Hal yang baru saya sadari, saya ternyata pembaca reportase Titah AW di VICE Indonesia, makanya beberapa isinya tidak asing bagi saya. Yang bikin buku ini beda adalah reportasi ditulis tanpa melewati saringan redaksi VICE. Ia telanjang. Reportase yang ditulis seperti yang memang penulis inginkan.

  8. Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut oleh Dian Purnomo. Novel yang mengambil kisah dengan latar mirip Sangihe dan penolakan tambang di sana. Ilustrasi yang dipakai berdasarkan foto asli, sehingga cerita terasa begitu nyata, meskipun kisah di buku lebih bahagia daripada kisah asli yang menjadi inspirasi. Novel dengan isu penting tapi ringan dibaca.

  9. Demokrasi Para Perampok oleh Toto Raharjo dan Oka Karyanto. Kumpulan esai penting tentang demokrasi di Indonesia. Bikin marah tentu saja dan bikin muak. Salah satu buku nonfiksi favorit yang saya baca tahun ini dan perlu kamu baca juga.

  10. Enola Holmes dan Cakaran Cerpelai oleh Nancy Springer. Novel Enola Holmes pertama yang saya baca. Sebagai penggemar buku Sherlock Holmes kanon, saya selalu penasaran dengan novel Enola (sebelumnya saya sudah mengikuti filmnya di Netflix). Cukup menarik, tapi saya perlu membaca judul lain untuk memastikan apakah saya menyukai kisah Enola Holmes dalam buku.

  11. Politik Hukum Pembentukan Undang-Undang oleh Zainal Arifin Mochtar. Lagi, buku tentang politik di Indonesia yang sangat saya rekomendasikan, terkhusus tentang politik hukum. Saya jadi tahu, hukum di Indonesia kacau karena terbiasa tumpang tindih. Ingat ketika MK tidak membolehkan polisi aktif menduduki jabatan sipil tetapi Kapolri melawannya dengan Perpol? Ya, itulah salah satu hasil dari pembiasaan tumpang tindih peraturan. Kacau. Bagi saya, satu-satunya minus buku ini adalah penyebutan nomor UU yang begitu rinci. Bagus dan cakep banget bagi yang belajar perundangan, tapi bikin pusing bagi yang tidak melakukannya.

  12. Yellowface oleh R.F. Kuang. Novel berikutnya dari Rebecca Kuang. Ia mengisahkan hal yang sangat mungkin bisa terjadi. Ya, karena ia memang satire terhadap rasialisme dalam industri buku dan palsunya media sosial. Sekali lagi, doi jago banget bikin karakter menyebalkan dengan kisahnya segar menakjubkan!

  13. Cetak Biru Cinta oleh Zahwa Islami. Buku nonfiksi romansa yang layak dibaca oleh semua orang. Ditulis oleh psikolog klinis dengan bahasa yang mudah dipahami. Ia bukan hanya buku berteori blablabla tapi juga praktis. Terdapat tabel-tabel yang dapat dipakai untuk menilai masa lalu, kepribadian, kemelekatan yang dimiliki, dan romansa yang timbul karenanya.

  14. 15 Pertanyaan Perempuan Feminis Sebelum Menikah oleh Kalis Mardiasih. Buku elektronik dari Kalis Mardiasih yang dapat dibaca sekali duduk. Kalau kamu ingin menikah dan mencari pasangan yang seprinsip dengan nilai feminis, saya rekomendasikan buku ini!

  15. Max Havelaar oleh Multatuli. Mungkin perlu saya baca ulang agar saya lebih memahami kisahnya. Entah, saya kurang yakin apakah terjemahan Max Havelaar antar penerbit sama, tapi terbitan Anak Hebat Indonesia ini kurang nyaman. Mungkin jika diberi kesempatan membaca lagi, saya akan mencoba membaca terbitan Narasi.

  16. Kronik Otoritarianisme Indonesia oleh Zainal Arifin Mochtar dan Muhidin M. Dahlan. Gong bacaan tahun ini soal politik dan pemerintahan. Ditulis runtut dengan kliping. Ia lebih layak untuk dibikin berjilid-jilid dibandingkan buku sejarah yang diluncurkan Menteri Kebudayaan yang itu. Buku sejarah yang harus dibaca rakyat Indonesia karena kita bangsa yang bes–

  17. Seorang Pria yang Melalui Duka Dengan Mencuci Piring oleh dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ. Aaahhh, super duper penting untuk kamu baca! Terutama yang sedang mengalami kesedihan mendalam, entah karena apa pun. Dokter Andreas menemani kita untuk merasa duka bersama, bukan memaksa kita untuk bahagia--jangan bersedih, semangat!

Di luar itu, ada satu buku yang tidak saya selesaikan alias DNF (Did Not Finish). Sastra klasik dari Turki: Tengah Hari di YeniΘ™ehir oleh Sevgi Soysal. Konsep ceritanya bagus tapi tidak enak dibaca. Entah, mungkin pada lain waktu saya akan mencoba membacanya lagi.

Saya tak pernah menargetkan jumlah buku yang dibaca. Saya hanya berdoa, semoga tetap diberi kewarasan, kesehatan, dan keluangan waktu untuk menikmati bacaan tahun-tahun berikutnya. Cao!