Reportase Segar Soal Kelokalan, Mistik, dan Mitos

Saya percaya, segala kisah mistis yang menempel di sebuah lokasi merupakan salah satu usaha agar lokasi tidak diobrak-abrik manusia rakus. Lokasi wingit ini bukan berupa gedung terbengkalai seperti eks-Wisma Hambalang atau, segera, gedung-gedung di IKN, tetapi lokasi alami semacam pohon beringin, kali, alas roban, dsb.

Namun, apakah lalu saya tidak percaya hal gaib? Percaya juga, dong. Tapi dalam sudut berbeda. Jika saya meyakini bahwa penunggu pohon besar itu ada, mengapa hanya menganggu warga jelata, tidak mengganggu bos besar, oligark yang mencabut pohon-pohon, meratakan hutan demi kebun sawit dan tambang?

Begitulah cara pandang sederhana untuk memahami karya jurnalistik mau pun esai yang ditulis Titah AW untuk VICE Indonesia. Tulisan-tulisan itu lah yang hadir di buku Parade Hantu Siang Bolong yang saya baca kali ini. Iya, buku dengan gambar cantik dan judul unik ini bukanlah sebuah novel atau kumpulan cerpen mengenai hantu -- sesuatu yang awalnya saya pikir demikian.

buku Parade Hantu Siang Bolong di atas meja di samping segelas kopi

VICE Indonesia1 merupakan media yang pernah sering saya sambangi. Dan ternyata, beberapa liputan Titah sempat saya ikuti. Pembahasannya memang selalu menarik, renyah. Ia memadukan segala fenomena mistik ke dalam konten jurnalisme yang logis. Kalau diibaratkan makanan, reportase Titah seperti sambal bunga kecombrang. Kamu bisa saja tidak suka pedas, tapi bisa jadi suka. Sebelum dan saat mencicip, wangi bunganya menguar ke dalam hidung dan mulutmu -- yang memberi kesan aneh, enak, dan campur aduk.

Ada beberapa topik yang saya ingat pernah saya baca di VICE; reportase mengenai Kampung Pitu di Gunungkidul, usaha pencarian orang hilang via dukun oleh tim SAR, fenomena knalpot blombongan masa Pemilu di Jogja, tentang komunitas ICJ (Info Cegatan Jogja), dan klitih. Ada yang sempat baca judulnya dan baru membaca isinya dalam buku ini; termasuk pembahasan konferensi tentang UFO, pemakaman seorang ayah yang sekaligus penghayat kepercayaan, dan pembahasan acara Golek Garwa di Jogja.

Perhatikan topik-topik tersebut. Ciri khas yang ditonjolkan tulisan Titah adalah kelokalan. Ardyan M. Erlangga, Managing Director VICE Indonesia, dalam pengantarnya (hal. vii) menyebutkan keluhan Gabriel Garcia Marquez alias Gabo atas betapa minimnya surat kabar lokal memuat berita. Berita lokal pun harus menarik, dapat melayani pembaca di daerah. Terima kasih, Gabo, telah menyuarakan! Saya mendukung orang untuk tetap membaca berita lokal meskipun berita nasional atau Jakarta-sentris merajalela. Membaca berita kemacetan di kalurahan tempatmu tinggal lebih bermanfaat daripada berita kemacetan di jalan depan Monumen Nasional.

Lihat buktinya. Beberapa reportase Titah sunggu bermanfaat bagi saya sebagai warga Jogja. Entah sebagai pengetahuan yang diterapkan maupun sebagai trivia penambah wawasan.

Saya penasaran, mengapa menggunakan judul "Parade Hantu Siang Bolong"? Penjelasan sangat menarik disampaikan oleh Soni Triantoro, Executive Producer Narasi TV sekaligus editor buku, dalam Epilog. "Saya sanggup membunuh mereka di alam pikir, namun mereka tetap gentayangan di alam sosial. Mereka mati di malam hari, namun berparade di siang bolong." (hal. 230). Selogis apa pun kamu dengan menganggap yang mistis itu tidak ada, tetapi ternyata kemistisan dalam bentuk ketakutan itu hadir leluasa di dunia sosial. Entah dalam bentuk ritual keagamaan atau hiburan seperti sinema horor.


Penulis: Titah AW

Penerbit: Warning Books

Tebal: xxi + 247 halaman

Tahun terbit: 2024 (cetakan ke-6)


  1. Sejak akhir tahun 2024, VICE Indonesia sudah tiada. Tapi, kamu masih dapat mengakses laman webnya di https://www.vice.com/id/ ↩︎