Selama tidak kemana-mana, bosan sih, meski kebiasaan masa pandemi tak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Namun, sejak itu banyak nilai kehidupan yang saya tangkap. Yang baru ada. Yang lama ada,
Masa pandemi begini saya jarang kemana-mana tapi justru saya jadi ingin menambah tulisan soal kuliner. Curang memang. Sebelum pandemi, waktu yang dapat saya pakai untuk minimal ke satu dua tempat
Ada satu idiom berbahasa inggris yang sempat bikin saya bingung--dan baru benar-benar saya pahami kemarin lebaran. Setidakjelasnya sikap, hari lebaran malah membaca soal idiom. Ckck. Take for
Baca buku lagi, Sodara. Seminggu ini saya membaca Mata Penuh Darah: Dua Peristiwa, 1966-2033 (yang akan saya sebut sebagai Mata Penuh Darah saja), kumpulan cerita pendek (cerpen) yang ditulis oleh 18
Aaah. Mungkin saya tidak akan bosan mengatakan pandemi secara langsung maupun tidak langsung memperlihatkan sifat dan sikap manusia sebenarnya. Beda-beda. Apatis cuek bebek, peduli, konspiratif,
Semenjak adanya korona, ramai-ramai perusahaan mem-PHK karyawannya atau merumahkan hingga waktu yang tak pasti. Karena masalah ekonomi yang tak jelas, apalagi disusul dengan kebijakan pembebasan
Sudah cukup lama saya kembali ke Firefox, peramban besutan Mozilla yang populer dengan logo panda merah melingkar, setelah sempat berpindah-pindah ke peramban lain. Selalu ada alasan untuk balik ke
Bulan lalu saat saya akan pergi ke luar kota. Dengan bus. Bersama rombongan tetangga. Saya berniat membawa buku bacaan untuk menemani perjalanan empat sampai lima jam ke depan. Buku kecil bersampul
Setiap pekan. Setiap hampir Jumat. Selalu saja topik seputar salat Jumat dilempar ke publik, minimal di tingkat kampung. Komunitas terpecah antara yang setuju untuk tetap mengadakan salat Jumat,
Fiuh, satu minggu lebih, mental terkuras. Lelah, bener. Yang secara tidak langsung mempengaruhi badan pegel. Ini bukan psikosomatik, tapi memang pegel gara-gara mental terkeruk berulang-ulang. Selama