Mengapa Harus Tetap Kritis Meski Jadi Anak Polisi?

Kalau kamu mengikuti saya di Instagram, saya ikut bersuara via cerita—buatan sendiri mau pun posting ulang. Kalau kamu mengikuti saya di Twitter, yang sepertinya tidak mungkin karena anonim, saya ikut bersuara lewat twit sendiri mau pun twit ulang akun lain. Jika kamu mengikuti saya di fediverse, saya pun melakukan hal yang sama.

Biasa lah, yaa.

Namun, ketika kamu dekat dan tahu lebih banyak tentang saya, kamu mungkin heran dan meh: "ini orang, anak polisi tapi bilang ACAB ACAB."

Ya, saya adalah seorang anak polisi. Purnawirawan. Sekaligus cucu seorang tentara. Pun jika digeser ke keluarga yang lebih luas, paklik saya juga seorang purnawirawan polisi, pakdhe saya juga seorang tentara.

Apakah kemudian saya selalu mendukung tindakan-tindakan TNI dan polisi khususnya? Ooo, tentu saja tidak.

Saya lahir dengan kultur dari bapak yang cukup kaku. Yang dalam banyak kasus sulit diajak rembug. Sulit menerima beda pendapat. Yang lebih suka mendikte. Menyuruh-nyuruh. Melabrak. Yang dengan kebiasaan profesinya, lebih suka melihat bukti dengan mata kepala sendiri daripada bukti yang disampaikan oleh orang lain. Dan cenderung antikritik. Pokoknya, Polisi banget.

Saya tak berniat menjelek-jelekkan bapak sendiri. Beliau orang baik. Meski memiliki kekurangan, beliau siap membantu orang dengan kemampuan deduktif, tegas, dan kemampuan memutuskan hal dengan cepat pada waktu genting. Beliau pun bertahun-tahun ikut mengkritik kinerja polisi. So, yes, bapak saya keren.

Lihatlah bagaimana profesi mempengaruhi bapak saya sehari-hari. Ya, itulah sifat polisi. Jika kamu menemukan antitesis dari sikap itu dalam tubuh polisi, maka sebut saja ia oknum. Itulah sisi yang saya internalisasi dan membuat saya tidak menyukai polisi.

Sisi lainnya. Saya memiliki kawan dan tetangga yang memiliki keluarga dan kenalan polisi. Dengan sombongnya, mereka memamerkan pernah ikut mencicipi narkoba yang dibawa kawannya. Mereka memamerkan pernah mabuk-mabukan dengan barang bukti miras yang dibawa pulang. Mereka memamerkan tidak takut melakukan hal menganggu karena dibekingi kenalannya, polisi. Instansi korup. Kerusakan yang mereka hasilkan justru menjadi alat sombong bagi sekelilingnya.

Polisi adalah bagian dari pemerintah. Alat. Aparat. Mereka digaji, dibawakan peralatan yang dibiayai dari pajak rakyat. Mereka bukan rakyat sipil. Sekali lagi, polisi bukan rakyat sipil. Sehingga bentrok dengan mereka bukan lah konflik horizontal, ia tetap konflik vertikal.

Saya mendengar berulang kali, termasuk dari teman sendiri, yang kasihan karena aksi unjuk rasa kemarin. Kasihan terhadap polisi. Karenanya polisi-polisi, katanya, tak dapat istirahat. Polisi luka-luka. Polisi meninggal dunia—yang sebenarnya tidak.

Broooo. Itu resiko pekerjaan, termasuk nyawa. Pada tahunnya, bapak saya pernah ikut melawan Fretilin di Timor Timur. Menenteng AK47 ke sana ke mari. Tengkurap sambil bertahan dari berondongan tembakan di bukit. Bapak saya melawan orang-orang bersenjata laras panjang sama. Lah, polisi-polisi yang diterjunkan di banyak tempat kemarin hanya melawan sipil tak bersenjata. Bahkan, kata "melawan" pun tak pantas. Polisi harusnya mengayomi dan menjamin keamanan unjuk rasa. Bukan memprovokasi dan menjadikannya lapangan tembakan water canon dan gas air mata. Tai!

pria dengan seragam ABRI memanggul AK47

logo Brimob roda gendeng

Polisi bukanlah rakyat sipil. Mereka alat negara. Sudah seharusnya dituntut akuntabilitasnya. Sudah seharusnya mereka tidak dilindungi di bawah ketek impunitas. Melakukan pungli? Hanya dihukum nglekar gulung-gulung. Positif narkoba? Hanya dihukum salat lima waktu—itu kewajiban, celeng! Melindas pengendara ojol? Hanya dianggap menyalahi etik, bukan pidana, pun hanya dihukum 20 hari. Membunuh 100 lebih di Kanjuruhan? Divonis bebas. Memfitnah pelajar yang ditembak? Tak ada hukuman sama sekali. Dan seterusnya dan seterusnya.

Polisi tidak perlu didukung dengan cinta kasih. Tidak perlu dikasihani. Mereka cuma perlu dituntut kinerjanya. Sudah sesuai tupoksi atau tidak? Sudah mengayomi atau tidak? Perhatikan HAM. Jangan asal intimidasi orang. Jangan asal culik-culik orang dengan alasan mengamankan. Jangan korup. Bahkan sangat perlu tuntut lah untuk mereformasi POLRI, mengubah UU yang mengatur kerja polisi secara langsung mau pun tidak langsung agar tak sewenang-wenang.

Jika kamu sama-sama berasal dari keluarga polisi, mari sama-sama suarakan perbaikan kinerja polisi. Tetaplah kritis!

Kasihan terhadap polisi?

NO.

Kasihanilah yang mereka palak, jebak, tendang, injak-injak, pukul, tabrak, lindas, culik, fitnah, tembak, bunuh ...