Si bayi lahir. Tengah malam. Rambutnya lebat. Ia lahir sendiri, hanya ditemani ibu dan bapaknya di ruangan dominan putih, di bilangan Babarsari. Seperti ibu-ibu lain di rumah sakit Ibu dan Anak,
Kala waktu, kehidupan begitu normal. Berkumpul di balai sambil rapat menentukan tanggal lomba Agustus-an. Atau menentukan tanggal pentas seni dan menyiapkan pernak-pernik panggung dengan balon dan
Masa lalu menjadi hal yang mengherankan sekaligus menakutkan. Kala-kala juga menyenangkan. Bisa jadi nirfungsi atau bernilai kecil sampai besar. Pun jika tidak bernilai, masa lalu seperti teka-teki
Dalam sayup azan. Dengan langkah kakinya yang gontai, tangan itu sedikit gemetar ingin meraih sesuatu. Foto berpigura di atas meja dan cermin di baliknya yang ditujukan sebagai penghias ruang entah
Jika saya menyukai sesuatu, saya berusaha menggenggam erat hal itu. Rasa menyukai adalah kemewahan, di tengah sikap apatis, sebal-marah, sedih berlarut-larut. Apalagi di tengah situasi depresif
Dari sekian tumpuk perkakas, kebutuhan, produk, atau apalah itu--selain makhluk hidup dan uang, manusia pasti memiliki sesuatu yang dianggap berharga. Berharga yang tak selalu dicerminkan oleh
Menjadi pelompat bukan hanya tugas katak. Secara tidak langsung, manusia juga melakukannya. Entah pada hal apa saja. Termasuk saat memilih perangkat lunak atau aplikasi komputasi harian. Saya
Kembali lagi. Berkelana di dunia Supernova. Dunia yang dibangun dua dekade lalu tapi baru saya sambangi dua tahun lalu. Dan kini, saya memasuki dunia salah satu tokoh lainnya--yang menggambarkan
Pagi itu. Subuh. Perempuan yang dikawini kakak saya, menjelang kuartal akhir tahun lalu, perutnya mulai bergejolak. Apa itu namanya? Mm … kontraksi? Saya tak pernah membayangkan kehidupan ibu hamil
Semakin besar akun media sosial, semakin makin banyak pula pengikutnya. Entah akun Instagram atau Twitter, bahkan di luar jagat media sosial itu sendiri, seperti blog maupun kanal YouTube. Hampir